Dua bulan yang lalu, Pasukan Operasi Khusus AS memimpin serangan di Provinsi Paktiya, Afghanistan. Tiga perempuan warga sipil tewas dalam serangan itu, termasuk dua diantaranya permepuan hamil, bersama dengan dua orang sipil.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO mengakui kemudian bahwa kedua orang itu non-kombatan.ISAF menyatakan bahwa kedua perempuan itu dibunuh beberapa jam sebelum serangan dilancarkan. Siapa yang membunuh para perempuan itu? Mayat mereka yang terikat dan tersumbat, menunjukkan sebuah “penghormatan” dari yang melakukannya.

CNN melaporkan berita ini sama seperti NATO menggambarkannya. The New York Times sedikit lebih baik. Menurut afghanvoice, para perempuan itu, pada kenyataannya, dibunuh oleh tentara Amerika, bersama dengan dua orang laki-laki lainnya. Saat itu bahkan satu keluarga tengah merayakan kelahiran anak mereka yang baru lahir.

NATO mengakui bahwa tim forensik Afghanistan menemukan tanda-tanda kemungkinan bukti di lokasi penyerbuan itu. Peluru telah disingkirkan dari mayat para perempuan itu sendiri. Bahkan ada bumbu bahwa mereka dibunuh oleh keluarga mereka sendiri.

Seorang wartawan pemberani dari Times of London, Jerome Starkey, dengan keras menolak mengakui versi NATO dan Pentagon. Seandainya tidak ada Starkey Jerome, akun NATO tentang tiga perempuan yang telah dibunuh oleh saudara sendiri akan turun dalam buku-buku sejarah sebagai fakta.

Dunia perlu lebih banyak wartawan seperti Jerome Starkey. Dunia membutuhkan media yang lebih independen untuk mengungkap kebenaran, karena banyak media mainstream yang telah terkooptasi oleh berbagai kekuatan dunia. (sa/afghanvoice)

Iklan